Kader – kader Parpol Banyak Menolak Dukung Ahok

Posted on
Ahok memilih maju melalui jalur independen alias tanpa diusung partai politik. Padahal dua partai sudah menyatakan dukungan politik pada Ahok yakni Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Hanura.

Semenjak Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok sudah memutuskan untuk kembali bertarung dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Ahok mengatakan dirinya sesungguhnya tak masalah bila tidak mendapat dukungan dari mesin partai politik. Keputusan maju secara independen, kata Ahok, karena melihat perjuangan timnya yakni TemanAhok selama ini. Sehingga dia memilih menggantungkan harapan pada TemanAhok ketimbang partai.
Pernyataan ini sekaligus membantah sindiran pesaingnya, Sandiaga Uno yang menyebut Ahok sebenarnya membutuhkan dukungan partai. Hal itu terlihat dari sikapnya yang terbuka terhadap dukungan partai Hanura dan NasDem. “Kita ngarepnya sama TemanAhok kok,” jawab mantan politisi Gerindra ini.
Sikap dan difat Ahok membuat sejumlah kader partai politik juga menyatakan penolakan jika partainya mendukung calon petahana. Bahkan ada yang angkat kaki dari partai karena keputusan partainya mendukung Ahok. Ada kader yang sudah mewanti-wanti menolak Ahok. Merdeka.com mencatatnya, berikut paparannya.
1.Hanura
Meski Wiranto menyatakan dukungan tersebut merupakan keinginan kader partai dari tingkat terendah, nyatanya muncul ‘pemberontakan’ dari kader Hanura di DKI. Adalah Wakil Ketua DPS Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) Hanura DKI Jakarta, Rachmat HS dan Wakil Ketua Bidang Pembinaan Legislatif dan Eksekutif, Bustami Rahawarin, yang memprotes keputusan tersebut.
Keduanya bahkan memilih mundur dari posisi pengurus dan kader Hanura. Mereka bahkan mengritik Wiranto karena telah mendukung Ahok.
“Saya yakin, kalau Pak Wiranto kan bilang Hanura memilih Ahok karena rakyat Jakarta tanpa pamrih. Pertanyaannya rakyat yang mana? Ini pendekatannya rakus kekuasaan. Karena Hanura tidak mau menjadi partai yang kalah,” ujar Rachmat di Sarinah, Jakarta, Minggu (27/3)
Rachmat mengaku menjadi salah satu pendiri Partai Hanura di DKI Jakarta. Dia juga mengaku membangun Hanura susah payah di daerah tersebut dengan dananya, bukan partai.
Dia juga menilai dukungan yang diberikan terhadap Ahok tidak sesuai dengan platform partai, jargon partai. Sebab, Ahok dinilainya tak punya hati nurani dengan kebijakan-kebijakan menggusur rakyat kecil, pedagang kaki lima tidak ada solusi, menggusur masyarakat Kampung Pulo, dan kebijakan-kebijakan lain yang menurutnya tidak sesuai dengan karater pemimpin harapannya.
Rachmat dan Bustami secara simbolis melepas jaket Partai Hanura yang dipakainya. Di balik jaket tersebut, mereka menunjukkan kaos putih betuliskan ‘Hati Nurani sampai mati, no Ahok!’.
“Sore ini saya mengirimkan surat pengunduran diri ke Ketua DPD Hanura DKI Ongen Sangaji yang ditembuskan pada Ketua Umum Hanura Wiranto,” katanya.
2.PAN
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mengaku sudah menyiapkan dua kadernya yaitu Bupati Bojonegoro Suyoto dan Walikota Bogor Bima Arya untuk maju bertarung dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Sedangkan dari luar partai kemungkinan akan mendukung Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault.
“Ada juga Ahok yang sudah komunikasi dengan kita,” kata Zulkifli dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II DPP PAN di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (27/3).
Namun ketika nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjadi bakal calon independen dalam Pilgub 2017, para peserta Rapimnas lantas menyoraki dengan sinis, “Huuuuu!!”
Takut salah paham, kemudian Zulkifli menjelaskan bahwa pertemuan dengan Ahok bukan diagendakan PAN. Akan tetap Zulkifli mengaku bertemu di saat Presiden Jokowi melantik Kapolda dan Bakamla yang baru di Istana Negara.
“Saudara-saudara, Pak Ahok itu kita ketemu bukan dalam forum resmi. Waktu serah terima Kapolda DKI dan Bakamla, ketemunya di Istana bukan Kantor PAN. Ketemu banyak orang, salah satu tamu undangan gubernur DKI,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum PAN Mulfachri Harahap mengisyaratkan bahwa partainya kecil kemungkinan mendukung Ahok maju dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Menurutnya, tak banyak kader PAN suka dengan figur Ahok. “Saya kira segala kemungkinan masih bisa terjadi. Sekalipun Ahok bukan favorit di sini. Saya ingatkan Ahok bukan favorit. Di tempat lain mungkin dia favorit tapi di sini tidak,” kata Mulfachri.
3.PDIP
Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) memiliki strategi untuk menaikan popularitasnya dalam menghadapi Pilgub DKI 2017. Strategi yang disebut Eva adalah dengan menjelekkan PDIP di mata publik.
“Kan strategy marketing Pak Ahok jelek-jelekin PDIP,” kata Eva kepada merdeka.com di Jakarta, Kamis (24/3).
Pertama, soal mahar politik sebesar Rp 100 miliar. Kedua, Ahok juga menjelekkan PDIP dalam proses penjaringan calon Gubenur dan Wagub. Ahok meminta rekomendasi dari Megawati agar dapat dipasangkan dengan Djarot Saiful Hidayat. Gayung belum bersambut, Ahok sudah menyebut cintanya kepada PDIP bertepuk sebelah tangan.
“Ahok suka kontroversi, sayang PDIP yang di-black campaign. Untuk membangun image antitesa jalur perorangan yang dibelokin sebagai jalur independen,” katanya.
4.Demokrat
Partai Demokrat salah satu yang membuka komunikasi dengan Ahok. Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengaku, Ahok pernah mengundang makan elit-elit Partai Demokrat.
“Saya laporan, pak saya mau makan dengan Pak Ahok bersama Hinca, dan Pramono Edhie. Bapak bilang bagus, buka komunikasi dengan semua. Demokrat menilai Ahok bagus, semua kita bilang bagus, tapi suara rakyat adalah suara Tuhan,” tandasnya.
Ahok mengaku mendapat undangan dari Demokrat, namun belum mempunyai waktu untuk bertemu. Termasuk bertemu dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Namun kader Demokrat lainnya justru menutup pintu dukungan untuk Ahok.
Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat, Andi Nurpati menegaskan, jika calon independen tidak akan menang lawan calon dari parpol. Meskipun rekam jejak cukup kuat dalam hal menyelesaikan program yang dimiliki calon independen, namun dia yakin hal itu tidak akan bisa mengalahkan calon dari parpol. “Sepopuler apapun Anda, kerja seperti apapun, masyarakat masih ingin calon dari parpol,” tuturnya.