5 Anak bangsa ini sukses jadi jutawan karena barang bekas

Posted on
Paling banyak dalam bentuk tekstil, mainan, bahan makanan, elektronik dan IT,Mantan menteri perdagangan yang juga bos Panasonic, Rachmat Gobel, mengungkapkan saat ini hampir 63 persen barang yang ada di pasar dalam negeri merupakan produk impor ilegal.
“50-60 persen (barang elektronik ilegal) di pasar. IT itu hampir 80 persen itu banyak impor ilegal,” ungkapnya di Pullman Hotel, Jakarta, kemarin.
Produk impor tekstil juga tak lepas dari kasus ilegal. Apalagi, ternyata pakaian impor ilegal ini adalah barang bekas. Sewaktu masih menjadi menteri perdagangan, Rachmat Gobel, menyindir bahwa Indonesia adalah bangsa ‘bekas’. “Kalau seperti ini kita jadi bangsa bekas,” kata Rachmat.
Namun, barang bekas tak melulu berdampak buruk. Di tangan yang tepat dan maksud baik, barang-barang bekas ini mampu menghasilkan keuntungan dan manfaat positif.
Tak sedikit hasil karya kreatif pemuda Indonesia pada barang bekas mampu mencetak pundi-pundi Rupiah. Berikut merdeka.com akan merangkum sejumlah pemuda yang sukses menyulap barang bekas menjadi jutaan Rupiah.
1.Sugiyono pembuat perangkap tikus
Sugiyono Hadianto (58), warga Minapadi RT 06 RW 09 Nusukan, Kota Solo, Jawa Tengah, memanfaatkan limbah pembuatan rantai sepeda motor menjadi perangkap tikus. Saat ini, area pemasaran produk inovatif buatan Sugiyono sudah mencapai luar Jawa.
“Saya mulai memanfaatkan limbah rantai dibuat barang berguna, yakni alat perangkap tikus sejak keluar dari pekerjaan di sebuah perusahaan timbangan pada 1998,” kata Sugiyono kepada wartawan di Solo.
Dia menyatakan, penghasilan dari usaha kreatif itu mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Usahanya dikerjakan secara bersama-sama oleh anggota keluarga.
Modal awal produksinya Rp 1,5 juta diperoleh dari Bank BRI. Awal era reformasi menjadi saat yang menguntungkan bagi usahanya. Perbedaan nilai tukar rupiah waktu itu membuat usahanya meraih keuntungan hingga Rp 15 juta.
Bahkan, alat perangkap tikus produksinya menembus pasar luar Jawa, antara lain Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua.
“Saya mengirimkan barang produk ke distributor di Delanggu, Klaten. Alat perangkap tikus itu, baru dikirim ke mana-mana, termasuk ke luar pulau,” kata bapak tiga anak itu.
Harga perangkap tikus bervariasi, tergantung ukuran. Harga produk ukuran kecil Rp 8.000 per buah dan ukuran besar Rp 12.000.
2.Nugraha pembuat produk mebel
Berkunjung ke pameran kerajinan Inacraft di Jakarta Convention Center, terdapat stan dengan nuansa Amerika Selatan. Di stan bernama ‘Lani Lanicra’ itu, terdapat topi koboi dan kerajinan kayu yang berciri khas Amerika Selatan berderet memenuhi stan yang kecil.
Layaknya kayu mahal, nyatanya ini hanya kayu-kayu bekas. Nugraha, penyewa stan, mampu menyulap kayu bekas menjadi meja dan aksesoris lainnya bercita rasakan Amerika Selatan.
“Ini barang limbah. Barang yang dibuat seadanya. Ada juga kayu yang berayap lalu diubah,” ujarnya pada merdeka.com.
Meski barang limbah, Nugraha yang sudah mulai membuat kayu sejak 1997 ini, ternyata sudah mengekspor kayu ke berbagai negara. Jumlah ekspornya pun tidak tanggung-tanggung. “Terakhir impor ke Iran satu kontainer, sebelumnya Jepang, Korea,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengusaha yang sudah ikut Inacraft sejak 1999 ini mampu meraup untung hingga ratusan juta rupiah. Pada awalnya hanya bekerja dengan 4 orang kini karyawannya bertambah hingga 30 orang.
“Untungnya bisa 500-an juta dalam sekali pameran. Itu juga dijual di Bali, Jakarta. Tadinya bekerja 4 orang sekarang 30 orang” imbuhnya lagi.
3.James pembuat produk rumah tangga
Wirausahawan asal Jepara, James, pemilik usaha bernama Vintage and Recycled Iron sukses menyulap drum bekas menjadi produk rumah tangga dan mebel. Usaha yang dirintisnya sejak enam tahun lalu ini, bermula dari kejeliannya melihat peluang usaha dari drum-drum bekas yang teronggok di sekitar tempat tinggalnya.
“Awalnya di dekat lokasi saya tinggal di Yogya banyak drum bekas dan besi-besi lainnya yang tidak terpakai. Lalu saya kembangkan, tujuannya juga untuk mengurangi sampah,” ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta.
Dengan keahlian yang dimilikinya dalam memotong, menyambung dan membentuk bagian-bagian dari limbah drum bekas serta ditambah dengan paduan warna dan aksesoris, membuat penampilan produk drumnya semakin cantik dan mempesona.
Demi keberlanjutan usahanya, James menggandeng pemulung setempat untuk kepastian ketersediaan bahan baku. “Kami juga bekerja sama dengan pemulung-pemulung sekitar rumah produksi. Setiap minggunya selalu dipasok, tapi tidak bisa dirata-rata berapa drumnya,” jelasnya.
James rata-rata menjual produknya dari harga Rp 180.000 hingga Rp 4 juta. Dia bercerita, untuk memulai bisnis ini tidak mahal. Cukup bermodal di bawah Rp 10 juta.
Kini James telah mampu menghasilkan uang sekitar Rp 120 juta per bulan dari menjual produk drum bekasnya. “Dalam satu bulan omzet sekitar Rp 100 juta sampai Rp 120 juta,” jelasnya.
4.Sariman pembuat silinder
Deru mesin terdengar dari sebuah pengisian bensin umum di Jalan Raya Kedungreja Desa Tambaksari, Kecamatan Kedungreja, Cilacap. Benda menyerupai roller atau penggilas yang lazim digunakan untuk pengaspalan jalan, terlihat bekerja sebagaimana mestinya.
Sekilas tak ada yang menarik dari roller, atau dikenal silinder oleh warga sekitar, berwarna kuning yang dikendalikan Sariman, warga RT 05/RW 01 Desa Tambaksari. Sesekali, kendaraan bergerak maju setelah ditumpahkan pasir dan batu kerikil untuk membuat landasan aspal di pengisian bahan bakar tersebut.
Berbagai alat yang tak biasa pun terlihat menyolok saat menyaksikannya dari dekat. Keran air dengan pipa paralon terlihat berada di bagian samping kanan silinder. Tak hanya itu, tangki sepeda motor bebek juga terliah di sisi kiri tempat duduk kemudi.
“Kabehan bekasan mas, sing ora mung lakher, keran karo pipane tok (Semua dari barang bekas yang bukan hanya lakher, keran dan pipa),” katanya dalam logat banyumasan yang kental.
Diakui Sariman, barang bekas yang digunakan untuk membuat silinder tersebut dikumpulkannya beberapa tahun. Semua barang tersebut kemudian mencoba dirakit di bengkel miliknya di depan rumah.
Sariman menghitung, untuk membuat silinder sederhana tersebut menghasilkan dana Rp 15 juta. “Jadi semuanya bekas, yang baru hanya laher, pipa dan keran. Dirigen saja bekas, tempat bahan bakar juga bekas tangki motor,” jelasnya.
5.Kusnodin pembuat pengrajin kaleng bekas
Berbekal dari ketidaksengajaannya memperbaiki kotak tempat uang angkot yang disopirinya dengan kaleng bekas, Kusnodin kini berhasil menjadi pengrajin kaleng bekas dengan penghasilan puluhan juta per bulan. Selain itu, warga Magelang, Jawa Tengah tersebut juga mampu mempekerjakan warga sekitar rumahnya.
Kesuksesan Kusnodin berawal saat keterampilannya mengolah limbah kaleng bekas menjadi bentuk binatang mulai diminati masyarakat Magelang dan sekitarnya. Sejak saat itu, tepatnya pada 1987, dia berhenti sebagai sopir angkot dan serius menggeluti kerajinan kaleng.
“Pas tahun 87, saya mutusin berhenti jadi sopir angkot karena pesanan sudah banyak,” ujar Kusnodin saat ditemui di bengkel kerajinannya di Magelang.
Salah satu kerajinan ciptaannya yang paling banyak dipesan adalah patung berbentuk burung merak. Kerajinan ini banyak dipesan oleh orang asing.
Bahkan, burung merak dari kaleng yang diawalnya dijual Rp 40.000, sekarang harganya melonjak hingga Rp 16 juta. Harga tersebut meninggi setelah dijual oleh orang asing di galeri milik mereka di Jakarta.
“Kalau harga dari saya Rp 2,6 juta. Sesudah dibeli sama orang asing dan dijual di galerinya di Kemang, harganya jadi Rp 16 juta,” jelas Kusnodin.